Feature

Google+ Badge

Saturday, December 22, 2012

Selamat Hari Ibu, I LOVE YOU MOM


setiap anak pasti mempunyai ibu, ibu yang yang mengandung kita selama 9 bulan 10 hari, Ibu adalah sesosok wanita yang telah melahirkan kita, merawat dan membesarkan kita dalam susah dan senang. Tidak peduli seberat apapun cobaan yang datang dalam hidup Ibu selalu berusaha memberi semua yang terbaik untuk kita. Meskipun kadang kita tidak mengacuhkan nasihat beliau, meskipun kadang kita berpikir bahwa beliau cerewet, meskipun terkadang kita berpikir Ibu terlalu banyak aturan, tapi satu hal yg kadang kita lupa bahwa Ibu melakukan semua itu karena ingin yg terbaik untuk kita.


Perjuangan Seorang Ibu
Ibu adalah seseorang yang selalu memperhatikan kita. Dimanapun kita berada, ibu selalu mendoakan kita agar kita selalu menjadi yang terbaik. Sejak saat kita dilahirkan, ibu selalu dengan sabar mengajari kita banyak hal dan berharap anaknya akan sukses kelak di masa depan nanti. ibu, selalu membimbing kita supaya kita selalu berada di jalan yang benar.

Tapi saat ini semakin kita dewasa. Bukannya kita semakin dekat dengan ibu kita, namun sebaliknya, kita malah menjauhi ibu kita karena kita selalu beranggapan kita sudah mampu sendiri, kita sudah dewasa, kita sudah mampu melakukan apapun sendiri. Walaupun sejauh apapun jarak kita dengan ibu kita, kita masih bisa berhubungan dengan ibu kita melalui alat komunikasi seperti telepon genggam. Dengan satu pencetan saja kita dapat mengubungi ibu kita walaupun hanya sekedar bertanya "gimana kabar ibu ?" itu sudah cukup membuat ibu bahagia.

Lain halnya dengan seseorang yang tidak memiliki seorang ibu atau ibunya telah lama tiada. mereka hanya bisa bersedih ketika memandangi teman – temannya yang sedang bersama dengan ibu mereka. Mungkin mereka merasa sedikit menyesal, karena belum sempat membahagiakan ibunya, belum sempat melihat mereka menjadi orang yang sukses. Saat mereka jauh , tidak ada yang memeperhatikan mereka selayaknya orang – orang yang memiliki seorang ibu. saat dia sedang rindu ibunya. mereka tidak bisa berhubungan dengan alat komunikasi seperti telepon genggam yang dengan satu pencetan saja, kita dapat mendengar suara ibu kita melalui telepon tersebut. Karena mereka sudah berbeda alam. Yang mereka bisa lakukan hanyalah berdoa agar ibunya berada di tempat yang terbaik disisi ALLAH SWT.

Dan, ibu adalah orang pertama yang selalu menghawatirkan kita. Dimanapun kita berada, ibu selalu menanyakan kabar kita, apakah kita sehat – sehat saja disana, apakah kita baik – baik saja berada di tempat yang jauh dari ibu kita ?. mungkin disaat seperti ini adalah saat menyebalkan untuk kita, karena ibu kita selalu menanyakan kabar kita. tapi kita berpikir bahwa kita sudah mandiri dan kita tidak perlu diperhatikan oleh orangtua kita, terutama ibu kita. Seharusnya kita berpikir dengan konsep mandiri yang kita lakukan. Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dari orangtua kita, terutama ibu kita

Kita tidak akan mungkin selamanya bisa bertemu dengan ibu kita. Kemungkinan yang paling besar adalah ibu kita akan lebih dahulu pegi meninggalkan kita. Ibu kita akan pergi meninggalkan kita, sendirian. Dan jika hal itu terjadi, sangat tidak mungkin untuk kita mendengar suara menyebalkan mereka kembali. Kita tidak menginginkan suatu malam, stelah ibu kita pergi, kita melihat telepon dan dan berpikir, seandainya kita bisa dengar suara ibu kita sekarang. Dan saat itu juga kita sangat ingin menghabiskandengan mendengar ibu kita berkali – kali menelapon kita dan bertanya “kamu lagi apa ?”.

Berbahagialah kita yang saat ini masih memikiki seorang ibu, karena kita masih ada yang memperhatikan kita selalu, kapanpun dan dimanapun kita berada, jangan pernah sia – siakan ibu kita, buat ibu kita tersenyum dengan apa yang kita lakukan untuk dia. Kasih sayang seorang ibu adalah sebuah harga yang mahal yang tidak bisa dibeli oleh apapun yang kita punya. Karena kasih sanyang untuk kita adalah sepanjang masa. Secerewet apapun ibu kita, bukan karena ibu kita tidak sayang pada kita, melainkan ibu kita melakukan hal itu karena ibu sayang pada kita.

Buat ibu kita bangga dengan kehadiran kita di bumi ini. dan saat ibu kita telah tiada, dia akan selalu berpesan kepada kita agar kita selu berbuat baik, menjalankan ibadah dengan baik, menjadi orang yang berguna untuk bangsa dan Negara. Hanya itu saja yang pesan yang membuatnya bahagia, dia tidak pernah mengaharapkan imbalan apapun yang sudah dia lakukan untuk kita. Tanpa kita perintahpun, ibi akan memberikan kita segala yang dia punya yang terbaik untuk kita.

Mungkin kita saat ini kita berpikir ibu kita berisik, bawel, cerewet. Kata – kata itu akan menjadi terbalik saat ibu kita telah tiada. Menyesallah kita yang selalu tidak memperhatikan ibu kita dengan baik. Mungkin disaat ibu kita telah tiada. Kita akan berpikir bahwa sesungguhnya, terlalu perhatiannya ibu kita adalah gangguan yang terbaik yang pernah kita terima. perjuangan seorang ibu.


IBU ADALAH PENGABDIAN BUKAN PEKERJAAN

Izinkan Aku Menciummu Ibu

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku. Izinkan Aku Menciummu Ibu


Lirik Kasih Ibu

Kasih ibu,
Kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
 
Hanya memberi,
Tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.
 It not abount choice....responsibility,
jika boleh memilih seorang ibu pasti ingin memilih yang lebih baik untuk anaknya