Feature

Google+ Badge

Sunday, January 20, 2013

Belajar Bahasa Arab: Sesukar Itukah?



Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
" Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memberinya pemahaman tentang agama (Islam)."  (HR.Bukhari)

Dari apa yang tersurat dalam hadits ini, dapat kita ambil suatu point bahwa: Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Allah akan memberikan dia kefakihan tentang dinul Islam ini.

Bahasa Arab merupakan salah satu ilmu alat (ilmu yang dapat dijadikan mediator/alat/sarana untuk mempelajari, memahami ilmu lainnya), bahkan dengan belajar kaidah Bahasa arab, kita bisa menemukan faidah dan menggali suatu hukum yang terdapat pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, seseorang yang diberi pemahaman dari Allah untuk menguasai ilmu ini, terlebih jika dia menggunakannya untuk mendalami syariat Islam, mengamalkan syariat Islam, dan mendakwahkannya...hingga keimanan dan ketakwaannya pun kian bertambah, maka itulah salah satu tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi diri orang tersebut.

Berdasarkan realita di lapangan, banyak pihak mengeluhkan sulitnya belajar bahasa arab, bahkan ketika belajar kaidah dasar yang sudah disusun dengan sistematika sangat mudah. Memang banyak faktor yang menjadi pemicu sukarnya seseorang dalam memahami dan menguasai bahasa ini, baik berasal dari faktor pengajar, faktor pelajar, faktor materi pembelajaran, atau faktor eksternal yang lainnya termasuk kehendak Allah untuk memberikan taufiq pada siapapun yang Dia kehendaki. Pada bahasan kita kali ini, saya hanya ingin menitikberatkan pada satu faktor dari segi pelajar: kurangnya doa.
 
Berdasarkan pengalaman saya pribadi ketika saya belajar dan diberi amanah mengajar (kaidah bahasa arab dasar tentunya), kebanyakan teman belajar dan orang-orang yang saya ajar masih berstatus mahasiswi. Sisanya: ibu rumah tangga biasa, ibu mantan anak kuliahan, atau wanita yang bekerja di suatu tempat. Intinya, teman belajar dan orang-orang yang saya ajar itu kebanyakan mahasiswi/mantan mahasiswi yang lulus kuliah/pernah berstatus mahasiswi, yang berasal dari universitas-universitas yang terkenal dan "bernama" di Jogja atau dari lain daerah...seperti UGM, UAD, UMY, UII, UIN, AMIKOM dsb. Artinya, tingkat kecerdasan mereka minimal ya rata-rata standar lah. Bahkan teman belajar atau yang saya ajar itu tidak sedikit pula berasal dari jurusan bergengsi UGM, yang umumnya susah ditembus oleh orang kebanyakan kalau dia tidak benar-benar pintar. Anak-anak yang bisa masuk ke jurusan itu umumnya anak yang tergolong pintar-pintar di sekolahnya dahulu (saya sedang tidak membahas faktor khusus seperti "keberuntungan" dari Allah sehingga dia bisa diterima di jurusan bergengsi UGM...yang sedang saya bahas hanya faktor yang bersifat mendasar dan "umum" saja.) Lalu...ketika mereka sama-sama belajar, ternyata hasil grafiknya pun bermacam-macam. Bahkan tidak sedikit pula orang yang otaknya pas-pasan saja, malah lebih cepat menguasai dan jadi yang terbaik dibanding mahasiswi yang cerdas-cerdas ini. Ada juga mahasiswi cerdas, namun ilmu bahasa arabnya dari dahulu tetap jalan di tempat, di kaidah dasar situ-situ saja....padahal jenjang yang sudah dia tempuh adalah jenjang bahasa arab lanjutan. Apa yang keliru? Ada masalah? Sekali lagi saya katakan, banyak faktor pencetusnya....termasuk kecerdasan linguistik yang Allah berikan bagi seseorang dan banyaknya maksiat yang dilakukan seseorang, itu ikut berperan juga. Akan tetapi, kali ini bukan itu yang hendak saya uraikan, namun tentang point pentingnya berdoa.
 
Berdoa yang saya maksud di sini adalah berdoa agar:
- Allah memberikan kemudahan bagi orang tersebut untuk memahami, menguasai, menerapkan dan menggunakan ilmu tersebut agar bermanfaat bagi dirinya dan selainnya.
- Allah memberikan taufiq kepadanya agar dapat menggunakan ilmu tersebut untuk menolong agama-Nya, mendekatkan diri pada-Nya, memahami Al-Qur'an...As-Sunnah serta ilmu lainnya yang berhubungan dengan syariat.
- Allah memudahkan dia untuk ikhlas mengharap ridha-Nya ketika mempelajari ilmu tersebut.
- Allah menjauhkan dirinya dari rasa malas (malas ini juga salah satu penyakit kronis yang sering menjangkiti pembelajar bahasa arab)
 
Seringkali kita lupa berdoa, dan hanya mengandalkan kemampuan atau kecerdasan kita saja. Kita lupa bahwa kecerdasan seseorang hanyalah anugrah -sekaligus fitnah, jika dia tidak bisa mengelolanya dengan benar- temporer yang Allah titipkan bagi kita. Sewaktu-waktu Allah inginkan, Dia bisa dengan mudah mencabutnya dan merubah kecerdasan tersebut berbalik 180 derajat...drastis sekali.
 
==> Siapakah yang menurunkan Al-Qur'an? Allah.
Siapakah yang mengutus Ruhul Qudus agar menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga segala perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallamyang ada dalam Al-Hadits itu berdasarkan wahyu? Allah.
Dengan bahasa apakah Al-Qur'an dan Al-Hadits itu ada pada awalnya? Bahasa Arab.
Maka, mintalah pada Dzat yang telah menurunkan Al-Qur'an dan Al-Hadits dalam bahasa arab itu, agar Dia memberi kemudahan bagi kita untuk mempelajarinya.