Feature

Google+ Badge

Saturday, January 26, 2013

Rasa Takut adalah Ilusi






Michael Jordan "Rasa Takut adalah Ilusi"
Saya tidak pernah memikirkan konsekuensi dari lemparan bola yang gagal. Mengapa? Setiap kali berkonsentrasi pada kegagalan, kamu akan takut menghadapi hasil buruknya.
Ketika akan melompat ke dalam kolam renang, meskipun saya tidak bisa berenang, yang saya pikirkan adalah bagaimana agar bisa berenang, paling tidak agar tidak tenggelam. Saya tidak akan berpikiran, "Saya tidak bisa berenang, jangan-jangan saya nanti tenggelam!" Jika saya masuk kedalam situasi apapun, saya selalu berpikir bagaimana caranya agar berhasil. Saya tidak pernah berpikir bagaimana jadinya kalau nanti gagal.
Namun, saya melihat beberapa orang yang dibekukan oleh rasa takut gagal. Rasa takut muncul karena pengaruh rekan-rekannya, atau terlalu banyak memikirkan konsekuensi buruknya. Mereka mungkin takut tampak bodoh atau dipermalukan. Saya tidak suka begitu.
Saya sadar, jika ingin meraih sesuatu dalam hidup ini, saya harus agresif. Saya harus berlari keluar dan mengejarnya. Saya tidak percaya kamu bisa mendapatkan sesuatu dengan cara pasif. Saya tahu, bagi beberapa orang, rasa takut adalah hambatan. Namun, bagi saya, rasa takut adalah ilusi.
Jika sudah berada disuatu tempat, saya tidak memikirkan hal lain kecuali berusaha sekuat tenaga agar berhasil. Ketakutan hanya ilusi semata. Kamu mengira ada sesuatu yang menakutkan di sana, namun sebenarnya di sana tidak ada apa-apa. Apa yang ada di sana adalah peluang untuk berbuat sebaik-baiknya dan meraih keberhasilan.
Kalaupun saya sudah berusaha sebaik mungkin dan hasilnya tetap kurang baik, paling tidak saya tidak akan menyesal karena tidak berani mencoba. Mungkin nasib baik belum berpihak pada saya. Mungkin saya kurang keras berusaha. Tidak ada salahnya mencoba, dan tidak ada yang perlu ditakutkan. Kegagalan selalu menjadi pemicu untuk bekerja lebih keras lagi di masa mendatang.
Itulah sebabnya mengapa saya selalu menasihatkan untuk "berpikir positif" dan mendapatkan energi dari kegagalan. Terkadang kegagalan justru mendekatkan kamu dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketika saya berusaha membetulkan mobil yang rusak, setiap kali saya mencoba dan tidak berhasil, saya semakin mendekati untuk menemukan penyebab kerusakan yang saya cari. Penemuan-penemuan terhebat di dunis melewati ratusan kegagalan sebelum jawabannya ditemukan.
Menurut saya, rasa takut terkadang disebabkan tidak adanya focus atau konsentrasi, terutama dalam dunia olah raga. Ketika saya berdiri pada garis lemparan bebas dan memikirkan ada 10 juta orang memperhatikan saya lewat lensa kamera, saya tidak bisa mencetak skor.
Oleh karena itu, secara mental saya berusaha meletakkan diri pada tempat yang akrab saya kunjungi. Saya terus-menerus mengingat-ingat semua lemparan bebas yang berhasil saya lakukan dalam latihan dan mengikuti gerakan yang sama, teknik yang sama yang telah saya gunakan ribuan kali. Lupakan hasilnya. Yang penting kamu melakukannya dengan benar. Dengan demikian kamu bisa santai dan berhasil. Setelah melakukannya dengan benar, kamu sudah tidak bisa lagi mengendalikannya. Hasilnya berada di luar kendali kamu, jadi jangan pikirkan.
Prinsip yang sama juga berlaku ketika kamu menyampaikan presentasi bisnis atau membuat laporan sekolah. Jika kamu sudah melakukan semua yang harus dilakukan, setelah itu lepaskan saja hasilnya. Tidak peduli apakah klien akan menyukai presentasi kamu atau tidak. Hasilnya terserah pada klien, pembeli, atau guru kamu.
Saya bisa menerima kegagalan. Setiap orang pernah gagal. Namun, saya tidak bisa menerimanya kalau belum mencoba. Itulah sebabnya saya tidak pernah takut mencoba main baseball. Saya tidak bisa berucap, "Saya tidak bisa, saya takut tidak bisa membentuk tim yang baik." Saya tidak suka itu. Tidak peduli menang atau kalah, yang penting kamu sudah melakukanya sepenuh hati dan bekerja 110 persen.
Rasa takut hanyalah ilusi semata.

Copas : zonarinto