Feature

Google+ Badge

Monday, April 15, 2013

Kisah Sahabat Tsa’labah bin Abdurrahman Tentang Dosa



Kalau dosa itu berbau

Jika dosa-dosa yang dilakukan mengeluarkan bau,
betapa amat sangat bau busuknya diri ini
Siapa gerangan yang mau dekat ?,
anak-anak pasti menjauh, cucu pasti tak mau dipeluk.
pendamping hiduppun pasti tak tahan dan ingin berpisah
Andai jadi pedagang, pasti tak akan laku, tak ada yang mau beli
Andai sholat di masjid pasti jamaah terganggu,
bisa jadi membuat masjid bau dan sepi

Seorang pemuda dari kaum anshar yang bernama Tsa’labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah saw. dan cekatan. Suatu ketika Rasulullah saw. mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melewati rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah saw. menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur.

Dia menuju ke sebuah gunung yang berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya. Selama empat puluh hari Rasulullah saw. kehilangan dia. Lalu Jibril alaihissalam turun kepada Nabi saw. dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.’" Maka Nabi saw. berkata, “Wahai Umar dan Salman! Pergilah cari Tsa’laba bin Aburrahman, lalu bawa kemari."Keduanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah.

Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda di antara perbukitan ini?"

Penggembala itu menjawab, “Jangan-jangan yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?"

“Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?" tanya Umar.

Dzaufafah menjawab, “Karena, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan!"

“Ya, dialah yang kami maksud," tegas Umar. Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.

Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Wahai Sang Pencipta, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!"

Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?"

“Aku tidak tahu, yang jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu."

Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan salat“

Ketika mereka menemukan Rasulullah saw. tengah melakukan salat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa’laba mendengar bacaan Nabi saw surat tentang siksa neraka, dia tersungkur pingsan.

Setelah  Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, “Wahai Umar! Salman! Apakah kalian telah menemukan Tsa’labah?"

Keduanya menjawab, “Ini dia, wahai Rasulullah saw!" Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan tubuh Tsa’labah yang membuatnya tersadar.

Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Mengapa engkau menghilang dariku?"

Tsa’labah menjawab, “Dosaku, ya Rasulullah!"

Beliau mengatakan, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?"

“Benar, wahai Rasulullah." Jawabnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka." (QS al-Baqarah:201)

Tsa’labah berkata, “Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar."

Beliau bersabda,"Akan tetapi kalamullah lebih besar."

Kemudian Rasulullah menyuruh agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar Tsa’labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah saw. lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa’labah? Dia sekarang sedang sakit keras."

Maka Rasulullah saw. datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa’labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa’labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau."

Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?" tanya Rasulullah saw.

“Karena penuh dengan dosa." Jawabnya

Beliau bertanya lagi, “Bagaimana yang engkau rasakan?"

“Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku." Jawab Tsa’labah.

Beliau bertanya, “Apa yang kau inginkan?"

“Ampunan Tuhanku." Jawabnya.

Maka turunlah Jibril as. dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.’

Maka segera Rasulullah saw. membertahukan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa’labah dan langsung ia meninggal. Lalu Rasulullah saw. memerintahkan agar Tsa’labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai menyalatkan, Rasulullah saw. berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya..Kami melihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat." Beliau bersabda, “Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena, banyaknya malaikat yang turut melayat Tsa’labah."

Tambahan :

Firman ALLAH Subhana wa Ta’ala dalam hadist qudsi yang dimaksud tersebut,

`Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.


Kisah Tsa’labah radiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia. Ada banyak hikmah dari kisah ini, terutama keagungan sikap Tsa’labah dalam menyikapi rasa bersalahnya. Sebuah kesalahan yang mungkin dianggap sepele oleh kita, namun tidak untuk seorang Tsa’labah.

Yang dianggap dosa besar oleh Tsa’labah adalah SECARA TIDAK SENGAJA melihat seorang perempuan yang sedang mandi. Ketidaksengajaan ini memicu penyesalan dan taubat Tsa’labah. Subhanallah…

Coba kita renungkan perjalanan taubat Tsa’labah radiyallahu ‘anhu dalam kisah ini.

Langkah pertama adalah ketakutannya akan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini mencerminkan betapa Tsa’labah adalah manusia yang ihsan, dimana ia tahu dan yakin walaupun tidak seorangpun yang bersamanya saat itu. Ia tahu dan sadar betul bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang diperbuatnya walaupun tidak secara sengaja.
Ketakutan Tsa’labah ini menuntun Tsa’labah pada langkah selanjutnya, yaitu penyesalan. Penyesalan yang penuh sujud dan tangis selama 40 hari. Hingga akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Jibril alaihissalam kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam untuk mengabarkan berita tentang Tsa’labah yang sedang bertaubat di atas pegunungan. Bahkan setelah dijemput, Tsa’labah masih dalam nuansa penyesalan, malu dan takut sehingga ketika ia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membaca sebuah ayat dalam sholat ia pingsan. Sebuah penyesalan yang berujung dengan derita sakit, hingga Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan ke-agungan-Nya dan memberikan ampunan-Nya kepada Tsa’labah.

Tahap terakhir adalah ampunan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Tsa’labah. Sungguh, sangat terlihat betapa Allah subhanahu wa ta’ala mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Jika seorang hamba sudah bertaubat dan dating kepada Allah dengan membawa dosa seisi dunia, maka akan disambut-Nya dengan ampunan yang seisi dunia pula. Subhanalah… ya Ghofur.. ya Rahiim..

Taubat adalah rizki dari Allah. Sebuah kenikmatan yang sering dilupakan manusia. Allah subhanahu wa ta’ala membuka pintu taubat yang sebesar-besarnya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Selama hamba-Nya itu tidak mempersekutukan-Nya, maka nikmat taubat itu ada untuknya. Gratis! Subhanallah…

Adalah sebuah kemuliaan untuk memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan permohonan ampun adalah sebaik-baiknya permohonan. Walahu’alam bishshawwab.

Sumber : 
1. kajian TE
2. tausyah
3. pakdeazemi